Warung Sangrai, Bandung

Sebetulnya mudah saja kalau mau cari tempat makan ini. Lokasinya di samping Heritage factory outlet. Sehalaman malah.

Saya bahkan parkir di halaman Heritage.

Arenya memang tidak luas luas sekali. Tapi jika tidak dapat tempat kita bisa duduk di sisi lain Heritage, karena di samping warung ini, terdapat foodcourt juga yang disediakan oleh Heritage FO.

Untuk makanannya sendiri, menurut saya biasa saja. Dapetlah “sensasi” makan burung… Hehehe… Biasanya kan ga lari dari ayam sama bebek… Hahaha…. Sambalnya oke, pedasnya mantab…

Saya pesan tumis baby kailan, lumayan juga.

Sambel Hejo Sambel Dadak, Purwakarta

Sayang sekali kami ke sini untuk makan malam, sepertinya suasananya lebih cocok untuk makan siang. 

Malam begini berasa “muram” ditambah hujan pula, jadi berasa rempong aja. Karena saung-saungnya kecil jadi kurang leluasa, kuatir basah juga

Untung aja makanannya enak. Sajian yang unik, jadi sedikit mengurangi rasa “tidak pas” saya. 

Lokasinya di jalan utama, menjadikan resto ini pilihan saat sedang butuh makan di perjalanan dari dan ke arah Bandung. Buat saya, rasa standard-lah. Enak sih…, tapi tidak istimewa sekali

Lokasinya di Jalan Terusan Kapten Halim No. 99, Purwakarta


Rumah Makan Cikole, Lembang, Bandung

Kami mendapat kunjungan teman-teman dari kantor pusat, dari Jepun, yang tinggal cukup lama di Jakarta, karena itu di akhir pekan ini kami mengajak mereka mengunjungi Tangkuban Perahu, dan rencananya mau foto-foto di The Lodge.

Namun apa daya antriannya luar biasa panjang. Akibatnya setelah melalui jalan panjang dan lama karena kondisi jalan yang sangat buruk rupa, kami langsung meninggalkan tempat. Sekedar menikmati area parkir The Lodge, kami lanjut ke Ciater Spa and Resort. Mereka pengen coba main tembak-tembakan. Karena terhambat jalan buruk, dan kami harus tiba di Ciater Spa sebelum jam 15, maka kami pilih resto yang kira-kira penyajian cepat, makan juga cepat. Pilihannya jatuh kepada Rumah Makan Cikole.

Lokasinya di jalan utama. Menurut saya resto ini cukup unik. Di pintu masuk disambut dengan toko souvenir dan aneka kaktus yang bisa dibeli. Cantik warna-warni. Tidak terlihat meja dan kursi makan dari luar.

Restonya juga luas, jadi tidak perlu kuatir tidak dapat meja. Penyajian juga cepat.

Rasa oke punya. Karedok dan sayur asamnya saya suka sekali.

aneka tanaman mungil siap dibawa pulang. Bayar dulu ya…


Ini teman-teman kami dan beberapa orang dari Jepang. Mereka sudah terbiasa dengan masakan Indonesia.


Sayur asamnya seger. Ayam bakarnya juga oke, ditambah karedok. hhmm… nyam.. nyam..

Karnivor, Bandung

Lets meet our meat, katanya…

Dari luar kliatannya kecil restonya. Parkiran juga sempit, susah cari slot parkir. Kebetulan di seberang sedang ada pembangunan gedung, jadi kami parkir di tanah kosongnya, itu juga atas arahan petugas parkirnya. Entah parkir dimana kalau tidak ada tanah kosong itu. Meskipun pengunjung resto banyak, namun di dalam resto tidak penuh, masih ada tempat duduk, karena ternyata di dalam luas sekali.


Di dalam, baru terlihat kalau resto cukup luas dan banyak tempat duduk, smoking dan non smoking area. Sayangnya, area terbuka di dalam tidak dirawat baik, terkesan kotor, apalagi saat musim hujan begini.


Secara umum suasana resto sih enak, nyaman juga. Tapi saya justru kurang cocok dengan rasa makanan. Murah sih, dan porsi besar. Makan steak bisa kenyang banget. 

Saya jadi bertanya-tanya, kenapa ramai ya..?? Apakah karena murah ? Apa karena porsinya ? Jadi… silahkan dipastikan sendiri…

ini pesanan saya, Kofta Moroccan, semacam daging giling di-sate. Kurang sip, menurut saya, sepertinya lebih mantap kalau pakai daging kambing (bukan sapi)

Nah yang ini menu campur, ada sosis, daging sapi dan ayam. Namanya Mix Grill

 

Kalau yang ini sih Tenderloin Steak.

Katineung Rasa, Padalarang, Bandung

Dalam perjalanan kami dari Bekasi ke Stone Garden, Citatah, Padalarang, hari memang sudah siang, selain karena macet di tol Cipularang juga karena sistem buka tutup di jalan raya Padalarang ini karena perbaikan jalan.

image

Resto ini berada di jalan utama Padalarang. Dari luar terlihat kurang menarik. Sepi pula.

image

Ternyata resto lumayan luas. Di bagian dalam juga bisa lesehan

image

Dengan keinginan untuk menghemat waktu, kami sepakat pesan makanan yang sama. Jadi kami pesan timbel komplit aja, tapi ada yang pilih ayam goreng dan ada yang pilih ayam bakar.

yang ini timbel komplit ayam bakar

image

Sebagai tambahan, saya pesan karedok. Semuanya enak. Mantap. Saya suka. Harga juga wajar.

Kalau yang ini timbel komplt ayam goreng.

image

image

Karedoknya  oke, paduan bumbunya pas. Menurut saya…

image

Lesehan di halaman belakang

image

Anak-anak bisa main juga, meskipun sederhana, tapi oke-lah

 

Atmosphere, Bandung

image

Dari luar, Jalan Lengkong Besar, terlihat biasa saja, apalagi posisinya hampir mendekati tikungan, jadi bisa terlewat dan tidak terlihat. Namun saat melewati pintu masuk, sudah terasa “kemewahan” resto ini, meskipun konsepnya sederhana saja, sama seperti umumnya resto-resto taman yang lain.

image

image

Bagian depan resto untuk mereka yang tidak suka lesehan, meja dan kursi makan biasa. Ada live music juga.
Di bagian belakang adalah sebagian lesehan, dengan kolam-kolam ikan lengkap dengan saung, ada juga saung dengan kursi dan meja makan.

image

image

Jadi saat buka menu dan baca daftar harganya, saya tidak terlalu terkejut, variasi bebek goreng dipatok seharga 70ribuan.

image

image

Waktu pesanan saya datang, Bebek Betutu dan Bebek Bukitinggi datang, saya agak sedikit lega, karena ternyata porsinya cukup besar, nasinya banyak. Banyak bumbu, kaya rasa (tapi tetap tidak bisa menjelaskan mengapa harus 70ribuan…. Hehe…)

image

oh ya, Fried Calamary-nya kurang asik, porsi kecil pula… Hiks…

 Memang harus disadari, kadang-kadang kita datang ke resto yang “bagus” bukan hanya makanan yang kita beli, tapi juga kenyamanan dan suasana yang tentu saja termasuk dalam harga, dan sudah pasti tidak murah.

Pada dasarnya, saya tidak kecewa.

image

image

Iga Bakar Jangkung, Bandung

Berlokasi di Jalan Cipaganti, mudah ditemukan di sisi kiri jalan. Warung ini bukan kaki lima, menempati bangunan permanen, tapi sepertinya kalau siang beralih fungsi menjadi bengkel.

image

Tidak terlalu luas, kemungkinan saat weekend penuh pengunjung. Tempat parkir juga terbatas.

image

Iga bakarnya seperti iga yang “digoreng” dengan bumbu kecap. Iga ditempatkan di “hot bowl” karena bukan berbentuk piring alias “hot plate”.

Sopnya juga ditempatkan di mangkok panas juga.

image

Keduanya asik, cocok dengan lidah saya.

image

image